PROPOSAL PENELITIAN
MAKNA DI BALIK TRADISI MALAM 1 SURO
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mandiri
terstruktur untuk mata kuliah Metodologi Studi Islam
yang diampu oleh Bapak Maghfur, Ag.

Disusun
oleh :
1. Eka Putri
Pratiwi NIM
2013114001
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN)
Pekalongan
Jalan Kusuma Bangsa No. 09
Pekalongan
Tahun Akademik 2014
A. Latar
Belakang
Penanggalan Jawa memang cukup unik
karena merupakan perpaduan budaya Hindu-Budha dan Islam. Nama-nama bulan dalam
kalender Jawa beberapa di antaranya mengadopsi nama-nama bulan dalam
penanggalan Hiriyah. Namun patokan tahun pertama Jawa tidak mengikuti tahun pertama Hijriyah, melainkan memakai tahun
Saka. Per Oktober ini, Ada banyak mitos ketika tiba bulan Suro, bulan pertama kalender Jawa.
Misalnya, pantangan tidak boleh menikah di bulan ini karena kemungkinan
cerainya lebih besar. Secara umum bulan Suro dinilai sebagai bulan sial
sehingga sepanjang bulan ini berbagai macam pesta juga tidak diperkenankan.
Malam satu suro
merupakan salah satu ritus tahunan yang hampir setiap tahun dirayakan oleh
sebagian masyarakat Jawa, khususnya pada masyarakat Jawa yang berada di daerah
Yogyakarta, Surakarta, dan Solo. Malam satu suro merupakan suatu pergantian
tahun pada penanggalan Kalender Jawa. Sama halnya dengan tahun baru pada umat Islam
yang dimulai dengan tanggal 1 Muharram tahun Hijriah atau sama halnya dengan
tahun baru Masehi yang dimulai pada tanggal 1 Januari Tahun Masehi. 1 Suro
adalah awal tahun Muharam, tahun Islam yang telah ditranskulturisasi dengan
tradisi ritual Jawa kuno. 1 Suro menjadi bagian penting dari sebuah siklus
kehidupan manusia. Bagi golongan
tertentu terutama masyarakat Jawa yang masih meyakini, malam 1 Suro sangat
identik dengan nuansa mistis.
Peringatan
malam 1 suro yang bercampur mistis ini kerap menimbulkan kontroversi. Misalnya,
pertanyaan tentang faedah ritual-ritual tersebut dalam kehidupan
sehari-hari. Juga, apakah kegiatan ini tergolong syirik bagi umat Islam,
ataukah sekadar mengikuti budaya yang sudah turun-temurun. Hal inilah yang
melatar belakangi saya untuk meneliti tentang malam 1 suro , apakah di
perbolehkan dalam islam ??? atau tidak. Sebagaimana kita ketahui, dalam
persepsi Islam, bulan sial seperti Suro tentu tidak ada. Semua hari adalah baik
dan tidak ada waktu atau tanggal yang bisa membawa kesialan pada manusia.
B. Perumusan Masalah :
·
Mengapa harus diadakan ritual di Malam 1 suro
·
Siapa saja yang melakukan ritual ritual di malam satu suro
·
Apa keuntunganya melakukan ritual di malam satu suro
·
Kenapa masyarakat masih mengikuti tradisi ritual malam suro
itu
C. Tujuan Penelitian
:
·
Mengenal Tradisi
Malam Satu Suro
·
Untuk mengetahui nilai-nilai apa yang terdapat dalam ritual
satu suro
·
Untuk Mengetahui Asal usul adanya ritual ritual di malam
satu suro dengan mitos – mitos yang menyertainya
·
Pandangan islam terhadap mitos – mitos di bulan suro
D. Metode Penelitian
Metode yang saya akan gunakan adalah
metode literature. Dengan mencari
informasi dari sumber sumber tertulis yang telah ada , serta menguatkannya
dengan mewawancarai beberapa masyarakat jawa .